SEMANGAT HIDUP

SEMANGAT HIDUP
SIGLE

Jumat, 04 Februari 2011

KETIDAK KONSIKUEN PERKATAAN

Pengalaman demi pengalaman telah di raih, segelintir pengetahuan telah di pelajarai, tapi harapan akan perubahan yang dramatis hanya omong kosong belaka. Pembelokan kalimat, kata, fakta dan kenyataanpun terjadi, banyak alasan-alasan yang diungkap agar bisa berkelik dari tanggung jawab. Tanggung jawab moril maupun non moril yang telah di emban, tugas yang dipercayakan kini hanya menjadi batu lompatan jabatan saja. Karena pemimpin tidak tegas, segap dan cakap menghadapi masalah yang ada, sudah ada kegiatan tapi pemimpin selalu mencari kesalahan dalam kegiatan, apa jadinya bangsa ini jika pemimpin hanya mementingkan pribadinya sendiri di banding kepentingan orang banyak. Itu yang perlu kita ingat, ada hal-hal kecil yang harus kita pahami dan maknai apa arti yang tersirat di dalamnya. Jangan hanya egoismenya kita sendiri yang dipertahankan itu akan menambah pra duga/ pra sangka yang salah terhadap seseorang karena ini memperlihat pintarnya tapi yang kelihatan bodohnya itu yang selalu di tonjolkan oleh mahasiswa sekarang.
Arti penting sebuah perkataan itu adalah komitmen. Komitmen adalah sebuah kesepakatan bersama yang telah di bicarakan oleh kelompok orang atau yang sudah di diskusikan. Sehingga dengan adanya komitmen tersebut maka akan memudahkan kita memahami akan pentingnya sebuah janji.
Berdasarkan hal di atas, maka jika melakukan pelanggaran mengenai komitmen tersebut dapat menyebabkan terjadinya sebuah konsikuensi perkataan yang berambang pada ketidak percayaan seseorang kepada kita. Karena di anggap telah melanngar komitmen, dengan apa yang di ucapkan.
Komang Triawati
Penulis adalah mahasiswa pendidikan sejarah angkatan 2008
Pengurus HIMSA (Himpunan Mahasiswa Sejarah 2008-2009)

INA-INA DI PAGI BUTA BERTAHAN DENGAN BERMODALKAN SAK DAN BESI DI TANGAN

Oleh: Komang Triawati
Sungguh ironis di kota besar seperti di Palu yang di jadikan sebagai Ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, setiap pagi ketika matahari belum terbit, seorang ina-ina yang kesehariannya mencari botol bekas masih kita temukan di kota besar seperti ini. Demi menghidup keluarga, Timah (45) setengah paruh baya harus mengeliling sebuah perumahan tepatnya di Kelurahan Besusu Timur. Timah terpaksa mencari botol bekas untuk di jual demi kelangsungan hidupnya.

Di Perdos Besusu Timur, Palu, sak dan besi yang digunakan sebagai alat utama untuk mencari botol baik itu dijalan maupun di sampah. Walaupun upah yang ia dapat tidak seberapa ketika di jual hasil botol bekas yang ia kumpulkan. Ina-ina yang sangat tegar dan kuat ini sudah mengeluti pekerjaannya sejak 30 tahun yang lalu ketika beliua berumur 15 tahun. Karena kondisi keluarga yang tak mampu memenuhi kebutuhan pengasapan di dapur.
Demi perjuangan yang ingin di capainya ia selalu mendatangi setiap rumah yang ada tempat sampahnya untuk mencari, dan bahkan tak jarang Timah di berikan tumpukan kertas yang sudah tidak di pakai oleh masyarakat setempat untuk menambah penghasilan perharinya, meskipun harus mengeluarkan keringat dan tenaga agar bisa bertahan di ibu kota “kata Timah. Setiap pagi buta ina-ina banyak berkeliar di tempat sampah dan bahkan mereka tak jarang hanya pulang dengan tangan kosong.
Menjadi ina-ina telah menjadi pilihan hidup, bahkan tak jarang dari mereka yang bermodalkan sak di punggung dan besi di tangan sebagai alat bantu untuk mencari botol bekas jika ada di tempat sampah atau tempat pembuangan yang mereka temukan, kata Timah
Timah merupakan sosok perempuan yang tak mengenal lelah, pagi, siang, bahkan malam ia selalu bekerja untuk bisa menyekolahkan anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Bahkan ia tak kenal lelah untuk terus berjalan setapak demi setapak melewati jalan yang dilaluinya dengan menggunakan sepatu bot yang sudah robek. Pekerjaan ini adalah denyut jantung dan sebagai topangan hidup bagi keluarganya, walaupun usianya sudah separuh baya.
Timah mengaku setiap harinya ia mendapat penghasilan sekitar Rp 20.000 sampai 30.000 jika sak yang ia bawah penuh karena perkilonya mencapai Rp 4.000. Dengan penghasilan yang pas-pasan ini Timah mampu memanajemenkan uangnya, tak lupa tiap penghasilannya ia sisipkan Rp 5.000 untuk menabung, dan bisa digunakan saat sedang kepepet/mendesak agar tidak meminjam lagi dengan tetangga, Katanya.


Hidup itu penuh perjuangan kalimat itu yang selalu terdengar ketika saya SMP, hal itu ternyata menjadi kenyataan saat saya melihat langsung ina-ina yang hanya bermodalkan 2 alat tadi yakni Sak sebagai tempat mengumpul botol dan besi sebagai alat mencari botol aqua bekas.
Keterbatasan hidup
Ina-ina muncul sebagai penopah hidup hal ini karena otonomi daerah yang tidak berjalan dengan lancar serta terjadi ketimpangan pembangunan yang ada di kota tersebut. Sehingga mereka yang tidak mempunyai kreatifitas dan kemampuan yang terbatas hanya bisa menggunakan tenaganya untuk membantu kebutuhan sehari-hari.
Hal itu dipilih karena penghasilannya bisa di hitung tiap harinya serta memang tak ada pilihan bagi mereka. Timah mengaku hal ini halal ketimbang kita jadi “pengemis” dijalan yang harus meminta-minta, itu malah pekerjaan yang mudah tapi banyak hujatan karena tangan dan kaki masih bisa digunakan, kita sebagai manusia harus mampu memanfaatkan keterbatasn yang ada. Jangan keterbatasan itu menjadi alasan, ketika kita mampu melakukan apa yang bisa kita lakukan kerjakanlah. Kata bijak itu yang menjadi pedoman hidupnya, sungguh terkagum jika kita sebagai manusia yang memiliki kesempurnaan yang ada jika kita tidak gunakan dengan sebaik-baiknya.
Pekerjaan sebagai ina-ina sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, hal ini menjadi sebuah tantangan baru baginya. Karena ia tidak mau hidup begini terus, berkat usaha dan upaya yang ia jalani selama hidupnya dengan menabung setiap hari ia bisa membeli “sak baru” untuk ia gunakan bekerja. Jika kita hanya berpaku tangan kepada orang lain, hal itu tidak akan menghasilkan apapun, tapi jika kita bekerja dengan segala upaya yang telah dilakukan akan dirasakan hasilnya, kata Timah.
Ketimpangan itulah yang membawa perempuan ini menyelusuri jalan untuk mendapatkan botol aqua bekas baik dari botol aqua besar, sedang, kecil bahkan aqua gelas yang penting masih bisa “dijual”. Semoga masyarakat disekitar terketuk hatinya untuk membantu sanak saudara kita yang masih merasakan hidup yang berliku seperti diatas agar kisah ini tidak terulang bagi generasi masa depan berikutnya, semoga mereka mendapatkan ketrampilan yang memadai dari intansi pemerintah agar dapat digunakan untuk bertahan hidup, karena keterbatasannya yang mereka miliki.

MENGKAJI ULANG MENGENAI: SASTRA SEJARAH (Imajinasi Yang Terus Bertanya)

Tulisan ini merupakan hasil diskusi pada Sabtu 28 Nopember 2008 di Lembaga Penelitian Untad (Pusat Penelitian Sejarah) kerjasama antara PusSEJ dengan Himpunan Mahasasiswa Sejarah (HIMSA) periode 2008-2009 yang di ketuai oleh Fatma Saudo yang menggadakan diskusi Rutin atau program kerja Himpunan dengan melaksanakan diskusi pada setiap hari sabtu dengan materi yang berbeda yang disajikan sehingga peserta tidak merasa bosan dengan materi yang selalu sama. Saat itu yang mengikuti diskusi adalah semua Mahasiswa Pendidikan Sejarah dari angkatan 2005, 2006, 2007, 2008 yang ingin mendapat wawasan khasana pengetahuan. Alasan mengapa Koran ini di diskusikan karena di dalamnya di bahas ada dua hal yakni:
a. Tulisan ini memperkenalkan membaca sejarah yang baru, karena sastra di katakan sebagai sumber sejarah
b. Penulisnya merupakan seorang sejarawan
Berdasarkan dua hal tersebut HIMSA mengangkat tema Humaniora Teroka yang terbit di kompas pada hari Sabtu, 22 Desember 2007 yang di tulis oleh sejarawan DR. Asvi Warman Adam yang merupakan Sejarawan LIPI hal inilah yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut lagi, terutama pembahasannya mengenai sastra sejarah Imajinasi Yang Terus Bertanya, seperti dalam pengantar buku Mochtar Lubis, maut dan cinta disebutkan “ sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah”. Sehingga tulisan tersebutlah menjadi pengantar dalam tulisan imajinasi yang terus bertanya karya Asvi Warman Adam. Kemudian Taufik Abdullah dalam ilmu Kaldum menjelaskan bahwa sejarah adalah pengalaman impiris akan berjalan di dalam kegelapan. Penjelasan tersebut ada pada kalimat yang di sampaikan Taufik Abdullah pada tulisan Asvi Warman Adam mengenai Sastra Sejarah “Imajinasi yang terus bertanya”, Taufik Abdullah yang menolak dekonstruksi ini berpendapat, tanpa keyakinan bahwa kebenaran empiris dan historis adalah suatu yang bisa di dapatkan, kita hanya akan menggerayang dalam kegelapan”. Kenapa sastra di masukkan dalam sejarah, inilah yang harus di jawab? Mungkin ada alasan tersendiri yang penulis (Asvi Warman Adam) ingin ungkap dalam tulisannya tersebut sehingga Beliau mengembangkan sastra sebagai sejarah. Sastra tersebut ada beberapa macam, contoh sastra yaitu novel, puisi, pantun, Roman, cerpen. Pemikiran ini sebenarnya lahir tahhun 2003, tetapi yang memasukkan sastra sebagai sumber sejarah serta ide tersebut sudah ada sejak tahun 1933 yang di tulis oleh Bill Askrop di Amerika tepatnya Kolombia Universitas. Dari hal tersebutlah sastra dijadikan sumber sejarah alasnnya ada 3 yakni :
a. Genre memiliki 4 hal yaitu tipe, jenis, bentuk, aliran
b. Sastra sebagai obyek memiliki 4 hal yakni :
1) Sejarah memiliki teori
2) Sejarah memiliki obyek
3) Sejarah memiliki metode
4) Sejarah memiliki sistematis/struktur berpikir
c. Sastra sejarah ini memiliki 3 hakikat sejarah yaitu:
1) Hakikat pelaku sejarah
2) Hakikat ruang
3) Hakikat waktu
Berdasarkan tiga hal tersebut apa yang diungkap oleh Lukacs dalam Le Roman Historique (payot, 1965) Lukacs berpendapat bahwa ‘genre’ itu menjadi sejarah sebagai obyeknya, tetapi ia sendiri takut kepada sejarah dan berenang di dalamnya. Penjelasan kata genre sendiri memiliki arti bahwa topic ini membahas mengenai aliran (penanda/abstrak) yang dikaitkan dengan tulisannya mengenai Le Roman Historique. Sehingga roman/sastra dapat digunakan sebbagai obyeknya, serta roman/novel ini memiliki sejarah yang obyektif tiggi yang termuat di dalamnya. Oleh karena itu, jika sastra dikaitkan dengan hakikat sejarah karena cerpen juga termasuk dalam hakikat sejarah seperti “Robohnya Surau Kami” yang di tulis pada tahun 1994 diterbitkan sebanyak 82 kali, dan terakhir tahun 2006 ini menceritakan tiga hakikat tadi yaitu pelaku sejarah, ruang dan waktu.
Selanjutnya tulisan tersebut menjelaskan bagaimana kita menyeimbangkan imajinatif yang dimiliki oleh manusia seperti kalimat yang disampaikan dalam tulisan ini sama-sama imaninatif yang menggunakan pendekatan new historicism (NH) yang dicanangkan oleh Stepen Greenhaat tahun 1982 sebagaimana dijelaskan oleh Melani Budianto (dalam majalah sastra 3 tahun 2006), dapat menjadi pilihan dalam analisis karya sastra, sejarah dan sejarah secara utuh. Louis A Montrose menggunakan istilah ‘kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah atau dengan kata lain membaca sastra” memmbaca sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra (aspek sejarah sebagai kontruksi sosial)”. Beranjak dari tulisan di atas mengenai sama-sama imaninatif yang menggunakan pendekatan New Historicims (NH) ini lahir tahun 1933-1882, ia berpendapat bahwa melalui pemikiran yang historicisme ini bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah sumber dari sejarah, serta tulisan-tulisan E.C Harr. Lalu sejarawan yang paling tua yakni Heredotus yang menulis tentang Perang Persia (the Persia of war), buku ini beraliran sejarah yang sangat popular tahun 1900-an serta tulisannya yang sangat nature histori lalu kemudian dikembangkan menjadi historicisme yang di dalamnya membahas mengenai dua hal penting yakni:
a. Studi pustaka mengenai novel, Roman (sastra saat itu belum di masukkan)
b. Studi lapangan mengenai dokumen yang belum dilihat dilapangan, seperti dalam buku Ali Haji tentang studi lapangan yang membahas beberapa hal seperti buku yang sangat popular yakni Tulfaton nafis, Ma’rifat Filbaya, Rukhiyah.
Studi lapangan mengenai dokumennya Ali Haji ini hanya menjadikannya sebagai beberapa syair kemudian menurut New Historicism hal tersebut bisa dijadikan sebagai data sejarah karena bisa digunakan sebagai sastra sejarah yang harus berlandaskan pada 3 hakikat sejarah yakni pelaku sejara, ruang, dan waktu. Sastra adalah pekerjaan imajinasi, kebenaran di tangan pengarang dengan kata lain kebenaran bersifat subyektif. Sejarah sendiri memiliki 2 teks imajinasi yang masing-masing menyusun versi tentang kenyataan yakni fiksi dan fakta. Tapi dalam sejarah fakta tersebut di masukkan menjadi fiksi, tapi ini harus melalui tahapan-tahapan imajinasi yang sesuai dengan relnya sendiri, karena inajinasi adalah pembayangan terbatas atau imajinasi merupakan langkah seorang yang sangat kreatif yang di dalamnya memiliki 3 kategori penting yakni saksi, pelaku, dan penulis, agar memudahkan sejarah sebagai ilmu dapat terjatuh dan tidak ilmiah bila berhubungan dengan filsafat yakni sejarah dimoralkan, dan sejarah sebagai ilmu ilmu yang konkret dapat menjadi filsafat yang abstrak, Kuntowijoyo, (2005:9-10). kemudian imajinasi juga memiliki 2 aspek yang penting yakni ; (1) bagaimana penulis masuk dalam peristiwa tersebut, (2) bagaimana penulis menjiwai peristiwa tersebut. Karena sejarah memerlukan imajinasi yang sangat dalam serta sejarawan harus dapat membayangkan apa yang sebenarnya, apa yang sedang terjadi dan apa yang terjadi sesudah itu, Kuntowijoyo, (2005:69-70). Menurut Kuntowijoyo, terbit tahun 2005 dalam buku pengantar Ilmu Sejarah ada 4 hal mengenai sejarah tersebut yakni cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Sastra itu biasanya akan berakhir dengan realitas. Sedangkan sejarah berakhir klimaks. Klimaks yang dtimbulkan ada 2 yakni kepuasaan dan penasaran kemudian setelah itu akan muncul yang namanya obsesi/harapan seseorang, sehingga sastra dengan sejarah semakin dekat, keduanya berkaitan dengan narasi sejarah. Ini diakibatkan karena sastra dapat dikatakan sebagai budaya yaitu sastra tematis (kebiasaan), dan sastra momotetis. Ada 3 hal kebdayaan sastra yakni bahasa, religi dan kesenian. Sedangkan sejarah memerlukan klimkas, klimaks adalah obsesi seorang pengarang artinya perpaduan rasa puas dan rasa penasaran. Dalam klimaks, sejarah memiliki 3 pertanyaan penting yakni mengapa, kenapa dan bagaimana, kemudian dari pertanyaan tersebut baru sejarah bisa dijawab melalui 3 tahapan juga yakni latar belakang, menceritakan realitas dan informasi baik itu fakta yang bersifat gejala maupun kenyataan.
Soal keakuratan, sejarah juga bisa tidak akurat yang jelas keduanya membutuhkan imajinasi dari penulisannya baik itu berupa sastra maupun yang berbaur sejarah. Keakuratan dalam imajinasi memiliki 2 unsur yaitu; unsure subjektifitas dan unsure obyektifitas. Satra sebagai wilayah estetika yang otonom yaitu estetika/ keindahan. Sedangkan sejarah ada 3 wilayah yakni etika/moral (benar/salah), indah (bagus tidak bagus), layak/tingkah laku (baik/buruk). Hubungan sejarah dan sastra sangat unik karena sastra ada pantun pada abad ke 14, 1300 kiasan seperti berburu ke padang datar dapat rusa belang, berguru kepalang ajar dapat bunga kembang tak jadi. Dimana pada abad 14 datang/muncul bumingnya islam pantun yang hidup dipesantren untuk murid-muridnya. “Sejarah” mengapa dikatakan tidak akurat alasannya ada 6 dasar yang dimiliki yakni:
a. Sejarah memiliki pengertian sejarah ada deskontruksi masa lalu
b. Sejarah memiliki hakikat
c. Sejarah memiliki gerak yaitu langsung oleh tuhan dan kondisi masyarakat
d. Sejarah memiliki obyek yakni pemikiran kesejarahaan
e. Sejarah memiliki eksplonasi/penjelasan
f. Sejarah memiliki imajinasi
Menurut pemikiran post Kolonial, para sejarawan, di tuntut untuk mengakui bahwa 3 hal dalam sejarah yakni; (1) bahasa, (2) postmodernis, (3) didekontruksi. Dengan melihat tiga hal tersebut, maka bahasa digunakan sebagai huruf, symbol, kata, seni dan fungsi, agar mudah melakukan komunikasi antar para tokoh untuk berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Lalu postmodernis terbagi 2 kata yakni post yang artinya pasca/sesudah, modernis artinya canggih, rumit dan sulit. Jika diartikan keseluruhan post modernis adalah kembali ke’ yang lama berdasarkan aturan seperti salah satunya adalah munculnya pelancong/wisatawan. Postmodernis mengangumkan 4 hal yang ada dalam dunia sastra dan sejarah yang saling berkaitan yakni:
1. Menganggunkan demokrasi
2. Menlindungi dan melestarikan alam
3. Menjunjung tinggi HAM
4. Menentang rasiolis/keseimbangan hidup dan kesejahteraan.
Berdasarkan 4 hal mengenai postmodernis maka kekaguman demokrasi dapat dilestarikan melalui berbagai kegiatan yang positif seperti HIMSA tahun 2010 lalu. Demokrasi sebagai salah satu alat bantu untuk mewujudkan sebuah roda pemerintahan. HIMSA yakin melakukan pemilu raya yang di ketuai oleh Moh. Sairin ini merupakan salah satu demokrasi yang menjunjung tinggi asas jurdil. Sehingga sastra dapat dijadikan sejarah karena memiliki 3 hal di dalamnya yakni; saksi, pelaku, dan penulis.
Kemudian didenkontruksi yang berasal dari dua kata de dan kontruksi. De artinya muncul, dan kontruksi artinya kerangka. Jadi dalam sejarah dekonstruksi itu terdiri dari naturalism dan strukturalisme. Naturalisme artinya segala yang terjadi dimuka bumi ini dipengaruhi oleh alam sedangkan strukturalisme yaitu teori mengenai segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini memiliki 4 model yaitu model memanjang, model naik, model lebar, model turun. Dalam strukturalisme ini ada 16 teori yang harus diperhatikan salah satunya seperti symbol, sosial masyarakat. Apa yang sebenarnya menjadi perbedaan antara keduanya? Pertanyaan itu yang sering muncul dibenak mahasiswa, sehingga mahasiswa merasa haus akan informasi tersebut. Jawaban dari pertanyaan itu sangat membutuhkan imajinasi, karena sastra hanya berakhir dengan pertanyaan sedangkan sejarah harus harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya.
Tulisan mengenai topic ini mengungkap 4 hal yaitu teori pokok yang digunakan yakni:
1. Teori bahasa yang di bagi empat yaitu bahasa huruf, bahasa kata, bahasa symbol, bahasa seni.
2. Teori symbol yaitu bahasa sebagai symbol ada 2 yakni signifiut (penanda/abstrak), signified (petanda/konkrit)
3. Teori Dekonstruksi adalah upaya membalikkan kenyataan menurut Ferninand Dessousure.
4. Teori postcolonial orang yang memiliki 3 hal yakni memori/pengalaman, rasa/nilai keindahan/responsi, tingkat laku.
Sehingga sastra sejarah itu juga berpotensi untuk mengobati trauma masa lampau, seperti ditulis Melani Budianto pada sampul belakang novel Ojamagilak karya Marhin Aleida (2004) “Dengan membaca buku ini terasa beratnya beban sejarah, luka-luka masa laluyang tidak bisa dibicarakan secara terbuka, kecuali melalui sebuah cerita”. Inilah kutipan terakhir topic mengenai sastra sejarah imajinasi yang terus bertanya di tulis oleh Asvi Warman Adam, memberi gambaran umum bahwa sastra dapat mengobati trauma masa lampau karena sastra menjadi sebuah jembatan dalam sastra sejarah, tempat yang layak (rintihan orang ia tuangkan melalui sastra sejarah), sastra sejarah memiliki novel sejarah karena sastra memiliki 2 hal yaitu sastra tematis dan momotetis yang intinya kebudayaan sastra mengarah pada bahasa, religi dan kesenian. Demikian tulisan ini dibuat, semoga tulisan ini dapat menjadi khasana wawasan pengetahuan. Serta tulisan ini merupakan hasil diskusi yang segar bagi mahasiswa sejarah khususnya penulis yang ingin mengetahui seluk beluk mengenai sastra sejarah. Oleh karena itu, penulis mengajak para pemerhati sejarah, peminat sejarah, sejarawan, dan generasi muda, yang nantinya dapat membuat karya-karya yang lain mengenai sastra sejarah yang bisa dijadikan perbandingan dengan karya yang telah di tuangkan oleh Asvi Warman Adam.

Yojokodi, 4 Januari 2011
Komang Triawati
Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah
Universitas Tadulako, angkatan 2008
Pengurus HIMSA periode 2008-2009

Senin, 22 November 2010

Arti Persahabatan

SAHABAT ADALAH ORANG TERDEKAT KITA
SAHABAT TERKADANG MERUPAKAN BAGIAN DARI KEHIDUPAN
SAHABAT IALAH LAMBANG KEBERSAMAAN
SAHABAT BAGAIKAN BINGKISAN TERINDAH
...........
...........
ARTI SEBUAH SAHABAT....
SAHABAT MAMPU MEMBANGKITKAN KEHIDUPAN KITA
SEBUAH PERSAHABATAN YANG DIDASARKAN OLEH KEPERCAYAAN
KARENA SAHABAT SEJATI MENJADI SAHABAT TERAKHIR KITA
..........
...........
KEHIDUPAN YANG KITA JALANI...
KINI...DAN YANG AKAN DATANG PASTI SELALU BERSAMA SAHABAT
KARENA SAHABAT SEBAGI TEMAN, KAWAN, KASIH DAN JUGA KELUARGA
KELUARGA YANG KITA KENAL INI MERUPAKAN KELUARGA ALAMIAH
KELUARGA YANG TERJADI DARI IKATAN PERSAMAAN KEPNETINGAN,
..............
.............
SAHABAT KETIKA JATUH PASTI KITA RASA BERSAMA
KARENA RASA KEBERSAMAAN....KEPRIHATINAN.....
SAHABAT KETIKA MEMAHAMI KITA MAKA SAHABAT AKAN MEMBANTU
MEMBANTU BAIK FISIK MAUPUN NON FISIK

...............
............
SETIAP DETIK, MENIT, JAM,,, SAHABAT SELALU ADA
SETIAP LANGKAH DAN JEJAK SAHABAT SELALU INGAT
SETIAP HALUAN KEDAMAIAN SAHABAT SELALU MEMBERI KEHANGATAN
SETIAP KERAGUAN SAHABAT SELALU MEMAHAMI,,MENASEHATI..
BAHKAN.........SAHABAT MAMPU MERANGKUL KEBIMBANGAN KITA

............
ARTI PERSAHABATAN SANGAT MULIA
KADANG KELEMAHAN SAHABAT BISA MENJADI KELEBIHAN
TERKADANG PERSAHABATAN BUKAN HANYA SEBAGAI KEPOMPONG
TAPI PERSAHABATAN ADALAH MUTIARA SEJATI HIDUP
S

Rabu, 24 Maret 2010

TUGAS YANG TELAH MEMBINGUNGKAN KARYA KOMANG TRIWATI 08

TUGAS YANG TELAH MEMBINGUNGKAN
KARYA KOMANG TRIWATI 08

Ketika pagi hari yang cerah saat aku memandangi dosen yang sedang berdiri di depanku, sentak kaget aku mendengar bahwa akan diberikan tugas. Dosen yang sangat disegani dan penuh dengan Romantisme bila saat menjelaskan, kata-katanya, porpemen dan juga gerak tangan yang membuat aku tertarik dan senang apabila dia mengajar di ruanganku. Lalu ketika beranjak dari bangkuku dan bertanya aku bigung karena ketika malam saat mata kulaih beliau aku ngak belajar, sehingga aku kebingungan mendengarkan tugas dan penjelasan yang beliau kasih ke teman-teman mengenai artikel. Tugas yang membuat seluruh teman-teman kebingungan mendengarnya ketika kak Wilman pangilan akrabnya memberikan tugas mengenia “Artikel Kesenian” karena aku sama sekali ngak tahu dengan pembuatan artikel bahkan mengenai kesenian, dimana kesenian membuat aku teringat masa SMA bersama tema-teman dulu tentang ketrampilan Mulok mengenai kesenian, setiap mata pelajaraan tersebut aku selalu mendapat niali yang sangat buruk karena guruku yang bernama bapak Sukardi “bahwa kesenian itu membutuhkan kelembutan hati dan perasaan yang dari dalam tubuh kita dan dfipadukan dengan kreasi diri sendiri”. Sejak itulah setiap mata pelajaran kesenian aku selalu belajar dan belajar baik itu mengenai seni suara, seni tari dan seni patung tapi tetap saja ngak bisa seperti teman-temanku yang terrgabung dalam genk Ijo (Ikatan Jomblo Sejati), genk inilah yang mengantarku pada kemauan untuk belajar karena ketua genk ini adalah orang yang paling pintar di kelas 3 ips 4 ketika itu. Tetap aku bingung? Benakku bertanya-tanya apakah aku bisa atau tidak mengenai kesenian teamn-teman mengenalku hanya suka olahraga, karena aku sering ikut perlombaan olahraga seperti Porseni kecamatan, sekabupaten bahkan pernah mengawakili SMA N 1 TOILI menjadi juara di tigkat Provinsi ketika tahun 2006-2007 tingkat Pekan Olahraga Tingkat SMA (POPSMA), kemudian beranjak dari itu aku juga pernah mengawikili kabupaten banggai Ketingkat Porda sesulawesi tengah pada tahun 2007. Inilah alasanku mengapa aku ngak terlalu tertarik pada seni, karena hobi ku hanya di olahraga dan bakat itu mengalir sendiri dalam dirikan dengan sedirinya.
Perjalanan panjang inilah yang membuat aku selalu bingung dengan pemberian tugas mengenai kesenian saat duduk di banku SMA maupun sekarang ketika Kuliah aku mengharagai mata kuliah tersebut tapi pertanyaan di kepalaku ini tetap seperti ketika aku di Sma mengapa aku seperti ini?? Atau aku yang tidak menyayangi diriku sendiriku. Sadar atau tidak sadar ucapan teman-teman ketika SMA masih aku ingat mereka menyatakan bahwa “ hidup kita kelak akan berubah tapi seni yang melekat dari diri kita akan tetap mengalir bila kita asa terus menerus, serta kehidupan itu bagaikan kembang yang disukai kumbang karena kembang itu ada isinya, dan selalu berkembang dan berkembang” hal itulah yang selalu mengingatkanku pada teman-teman genk IJO bahwa jika seseorang hanya berdiam saja tanpa pernah mengasah kemampuan dalam dirinya maka tidak akan jadi apa-apalah mereka. Apalagi aku sekarang sudah menjadi seorang mahasiswa pertanyaan dan perkataan mereka ada benarnya juga, apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur, sesuatu yang tak pantas aku sesali dan aku harapkan. Mungkin itu hanya menjadi pelajaran yang berati dalam hidupku….terima kasih kawan terima kasih guruku kata-katamu telah menyadarkan aku akan arti dan makna sebuah latihan yang dulu aku sia-siakan bahkan aku tidak iraukan ketika guruku menjelaskan, saat mata pelajaran.
Masa SMA hanya kenangan aku tidak mungkin hanya berdiam danberdiam saja, melainkan aku akan terus berusaha memperbaiki semua itu, dengan tugas yang diberikan oleh kak Wilman inilah akan aku buktikan pada teman-teman genk Ijo dan Guruku bahwa kesenian adalah sebuah budaya yang harus kita lestarikan bahkan kita jaga agar mendapat tempat dihati orang lain dan diri sendiri. Artikel adalah sebuah media yang disajikan oleh dunia maya bagaimana kita mendesai dan merangkainya agar menjadi sebuah tulisan yang bagus dan indah. Bahkan dalam kesenian tersebut kita bisa mengetahui mengenai kesenian indonesia yang sudah mulai punah akibat adanya budaya barat. Dari tugas yang membingungkan inilah aku mencari sebuah permaknaan kata seni dan artikel tidak bisa di pisah bagaikan jiwa dan raga.
Jiwa dan raga yang ada dalam diri manusia………
Manusia diciptakan oleh tuhan! Sudah memiliki kemampuan yang lebih sempurna dari pada mahkluk lainnya. Bentuk kesempurnaannya hanya mencerminkan bahwa manusia bisa mengetahui benar dan salah karena memiliki akal dan budi. Semoga tugas membingungkan ini menjadi pedoman bagi diriku, ketika sebuah cerita yang bertajuk tentang kesenian seperti seni wayang kulit itu mulai ada dan juga mengesankan bagiku. Mungkin sejarah natinya sebagai media jembatannya yang akan melestarikan kesenian tersebut.

Jumat, 19 Maret 2010

TEORI-TEORI MANAJEMEN, DAN KAITAN ANTARA MANAJEMEN DENGAN PARIWISATA

KOMANG TRIAWATI


1. PengertianManajemen

Kata manajemenmungkinberasaldaribahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti "mengendalikan," terutamanya "mengendalikankuda" yang berasaldaribahasalatinmanus yang berati "tangan". Kata inimendapatpengaruhdaribahasaPerancismanège yang berarti "kepemilikankuda" (yang berasaldariBahasaInggris yang berartisenimengendalikankuda), dimanaistilahInggrisinijugaberasaldaribahasa Italia.[1] BahasaPrancislalumengadopsi kata inidaribahasaInggrismenjadiménagement, yang memilikiartisenimelaksanakandanmengatur.


2. Teori-teoriManajemen

Dalamilmumanajemen, dikenaladabeberapateori, antaralain sebagaiberikut :

 TeoriSistemdanPendekatanSistem

Masyarkat modern seperti yang adasekarangini, merupakansuatutatananmasyarakat yang terbentukdarisatuan-satuanorganisasi.Secaraumum, satuanorganisasi yang baikakanbercirikankemampuandalammenciptakantingkatrasionalitas yang tinggi, efektifdanefisiendalampengelolaanseluruhsumberdayanya. Sebagaihasilakhir, diharapkantujuanorganisasidapatdicapaisecara optimal.
 TeoriManajemenIlmiah
Manajemenilmiah, ataudalambahasaInggrisdisebut scientific management, pertama kali dipopulerkanoleh Frederick Winslow Taylor dalambukunya yang berjudul Principles of Scientific Management padatahun 1911.Dalambukunyaitu, Taylor mendeskripsikanmanajemenilmiahadalah "penggunaanmetodeilmiahuntukmenentukancaraterbaikdalammenyelesaikansuatupekerjaan." Beberapapenulisseperti Stephen Robbins menganggaptahunterbitnyabukuinisebagaitahunlahiryateorimanajemen modern.


Manajemenilmiah, ataudalambahasaInggrisdisebut scientific management, pertama kali dipopulerkanoleh Frederick Winslow Taylor dalambukunya yang berjudul Principles of Scientific Management padatahun 1911.Dalambukunyaitu, Taylor mendeskripsikanmanajemenilmiahadalah "penggunaanmetodeilmiahuntukmenentukancaraterbaikdalammenyelesaikansuatupekerjaan." Beberapapenulisseperti Stephen Robbins menganggaptahunterbitnyabukuinisebagaitahunlahiryateorimanajemen modern.
 TeoriPendekatanKuantatif

PengembangankuantitatifmunculdaripengembangansolusimatematikadanstatistikterhadapmasalahmiliterselamaPerangDunia II.Setelahperangberakhir, teknik-teknikmatematikadanstatistika yang digunakanuntukmemecahkanpersoalan-persoalanmiliterituditerapkan di sektorbisnis.Pelopornyaadalahsekelompokperwiramiliter yang dijuluki "Whiz Kids." Para perwira yang bergabungdengan Ford Motor Company padapertengahan 1940-an inimenggunakanmetodestatistikdan model kuantitatifuntukmemperbaikipengambilankeputusan di Ford.


 Kajian Hawthorne


KajianHawthroneadalahserangkaiankajian yang dilakukanpadatahun 1920-anhingga 1930-an. Kajianiniawalnyabertujuanmempelajaripengaruhberbagaimacamtingkatpeneranganlamputerhadapproduktivitaskerja. Kajiandilakukan di Western Electric Company Works di Cicero, Illenois.

KalanganakademisiumumnyasepakatbahwaKajianHawthroneinimemberidampak dramatis terhadaparahkeyakinanmanajementerhadapperanperlikaumanusiadalamorganisasi.


3.KaitanAntaraManajemen Dan Pariwisata

Telahkitaketahuibahwamanajemenmerupakansebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, danpengontrolansumberdayauntukmencapaisasaran (goals) secaraefektifdanefesien. Efektifberartibahwatujuandapatdicapaisesuaidenganperencanaan, sementaraefisienberartibahwatugas yang adadilaksanakansecarabenar, terorganisir, dansesuaidenganjadwal.Sedangkanpariwisatamerupakansegalasesuatu yang berhubungandenganwisata, termasukpengusahaanobjekdandayatarikwisatasertausaha-usaha yang terkaitdibidangtersebut.Apabilakeduanyadikaitkanmakaantaramanajemendanpariwisatasalngketergantungan,

HUKUM YANG ADA DI KERAJAANN BALI KOMANG TRIAWATI 08

• Hukum/aturan yang berlaku dalam kerajaan tradisonal seperti kerajaan Tabanan dan Klungkung

Kerajaan yang ada di Indonesia sangat banyak kerajaan-kerajaan yang masih menggunakan aturan/hukum tradisional seperti seabad Puputan Badung Perspektif Belanda dan Bali yang menjelaskan mengenai bagaimana aturan yang pernah diberlakukan dalam suatu kerajaan. Kerajaan yang dijadikan contoh adalaha kerajaan Badung di mana Puputan Bandung merupakan sebuah peristiwa sejarah yang sangat penting bagi Bali, namun sejauh ini sumber tentang perang habis-habisan rakyat Badung melawan sardadu colonial Belanda yang terjadi seratus tahun yang lalu (Hek Schulte, dkk.2006:xi) contoh aturan yang telah diberlakuakn oleh staf belanda agar janda-janda raja tidak melakukan mesatia atau upacara pembakaran mayat banyak di tentang oleh raja seperti raja Tabanan, sebagai sebuah cerita aturan atau hukum yang digunakan adalah sesudah raja Tabanan yang terdahulu meninggal pada tanggal 6 maret 1903, putra yang tertua sebagai ahli waris yang sah Gusti Ngurah Rai menggantikan kedudukan ayahnya dengan persetujuan dan pengesahan Gubenur Jenderal lewat akte nama Gusti Ngurah Agung. Upacara pembakaran mayat (Ngaben) raja yang meninggal akan diadakan tanggal 25 Oktober; dan meskipun raja sudah didesak agar mencegah niat janda-janda dari raja untuk ikut serta membakar diri dalam upacara itu (Mesatia), tetapi nyatanya datang berita bahwa mesatia tetap akan diadakan dalam upacara Ngaben.
Hal inilah yang menyebabkan terjadinya konflik karena sikap raja Tabanan berpeluang menimbulkan konflik dengan pemerintah, dimana saat melukan peneyelidikan yang diadakan tahun 1902 ternyata lembaga agama Hindu bali menyetujui penghapusan Masatia, diberitahu kepada raja tanggal 12 Oktober bahwa Mesatia yang akan ditentang keras oleh pemerintah. Untuk itu tanggal 17 nanti kepala biro Urusan Pribumi akan datang ke Tabanan untuk membicarakan lebih jauh masalah ini. Tetapi, karena para janda itu secara sukarela sudah diajukan sebelumnya yakni tanggal 29 september, dan tanggal 2 oktober sudah diberikan izin/pengesahan maka menurut Raja masalah itu tidak dapat ditinjau kembali mengingat bahwa hal tersebut sudah disetuji oleh para janda-janda raja.
Pemerintah tidak sependapat dengan alasan ini, dan masih mencoba mengubah jalan pikiran raja dengan cara mengirimkan dua kapal perang. Raja mengahargai itu, tetapi toh tanggal 25 Oktober mesatia tetap berlangsung. Gubenur Jendaral menyatakan kekecewaan kepada Raja tentang keajaiban itu, dan sehubungan dengan pengangakatannya sebagia pengemudi pemerintahan (raja) dan sehubungan dengan keputusan pemerintah tentang pengangktan sebagai raja melalui akte-akte dan pengesahan yang berhubungan dengan hal itu, maka dengan mempertimbangkan pada peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, dia (Raja) dituntut:
1. Menggadakan perjanjian, juga bagi pengganti-pengantinya untuk menghapus adat mesatia dan tidak lagi mengizinkan janda-janda, juga anggota keluarga lainnya untuk ikut membakar diri mesatia bersama-sama dengan jenazah suaminya.
2. Mengirim utusan, seorang atau lebih, dari keluarga terdekat untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada Gubenur Jenderal, dengan ketentuan bahwa jika dia tidak mampu memenuhi tuntunan ini, kekuasaan Raja akan dicabut dan sepanjang dianggap perlu akan diasingkan dari daerahnya.
Kemaunan pemerintah telah dijawab Raja, meskipun dengan berbagai dalih mencoba untuk tidak mengirimkan seorang utusan. Perjanjian di atas telah disetujui dan disahkan melalui keputusan pemerintah tertanggal 10 Maret 1904 No. 1 yang dituangkan dlam akte pengakuan dan kemudian akan disampaikan kepada raja. Walaupun raja Badung membatah, tetapi dari berbagai pihak diterima laporan yang secara jelas mengatakan bahwa di tengah perselisihannya dengan Tabanan, dia sama dengan Raja Klungkung mendorong Raja Tabanan agar Bangkit menentang Gubernemen Belanda. Dengan ini pemerintah Hindia Belanda yakni bahwa permasalahan di Tabanan tidak akan bisa diselesaikan dengan baik, sepanjang usaha untuk menghapus mesatia tidak ditetapkan di kerajaan-kerajaan lainnya di bali. Hali ini merupakan masalah yang mendesak untuk segera diselesaikan, sebab di Klungkung, jenazah Raja meninggal tanggal 25 Agustus 1903 yang lalu harus di-aben, dan menurut kabar yang santer terdengar, 6 jandanya sudah menyatakan bersedia untuk melakukan mesatia (Henk Schulte, 2007: 2-3)

Alasan kerajaan Tabanan dan Klungkung menolak adanya mesatia karena banyak terjadi persimpangan antara pihak Belanda dan Raja-raja yang sedang berkuasa. Kebanyak raja menolak dengan alasan bahwa hukum mesatia bagi janda-janda dianggap sebagai sebuah tradisi yang tidak lepas dari pengaruh panca sradah yang digunakan sebagai dasar umat hindu bahwa atma manusia akan bersatu dengan tuhan apabila sudah dilakukan upacara ngeben tersebut maka janda-janda dari Raja banyak yang menjadi sukarelawan mendampingi kepergian suaminya. Hukum ini berlaku diseluruh kerajaan bali tetapi banyak raja yang tidak sependapat dengan hal tersebut sehingga walaupun sudah dilakukan perjanjian dengan Lembaga agama Hindu tetap saja masih ada sukarelawan Janda raja yang mesatia. Dengan demikian mesatia merupakan hal yang paling dibenci oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan alasan bahwa hal itu bisa merugikan orang lain, sehingga dibuat suatu aturan oleh pemerintah toh aturan itu masih bisa di langgar juga .

• Analisis Data
a) Aktor/raja
Jika dilihat dari data diatas di mana yang berperan adalah raja Tabanan yaitu alih waris yang sahg adalah Gusti Ngurah Rai yang mengantikan kedudukan ayahnya dengan persetujuan dan pengesahan Gubernur Jenderal lewat akte nama Gusti Ngurah Agung, jika dianalisis data diatas menjelaskan bagaimana raja Tabanan tetap menggunakan hukum mesatia sebagai hukum/aturan yang digunakan oleh sebagaian besar masyarakat karena menurut hkum agama hal itu tidak bisa dilarang karena sudah berada pada ajaran agama yaitu lima keyakinan umat hindu (panca sradah) diantaranya termasuk mesatia merupakan ritual keagamanan yaitu punarbawa.
b) Kondisi
Dengan melihat fenomena yang ada maka Gubernur berinsiatif tetap melakukan perjanjian kepada raja-raja dengan harapan bahwa hal mesatia walaupun tidak bisa dilarang setidaknya dengan kondisi bahwa situasi kerajaan yang tidak memungkinkan lagi untuk tetap menjalankan hukum mesatia, karena banyak terjadi konflik yang disebabkan oleh hal tersebut, kondisi inilah yang membuat terjadi ketegangan antar raja-raja yng melakukan perjanjian dengan belanda



c) Situasi
Situasi yang dihadapi raja-raja Tabanan dan Klungkung yang terus terdesak oleh Gubenur Jendral yang menginginkan penghapusan mesatia tetapi situasi yang membuat raja-raja tidak setuju dengan hal itu. Oleh karena ada pemeberian kapal yang dilakukan oleh Gubernur yangh mengutus salah seorang untuk mengontrol mesatia tetapi tidak bisa, situasi inilah yang membuat raja semakin bersandiwara bahkan melakukan perjanjian setiap tahun yang harus dibuat oleh pemerintah.






















DAFTAR PUSTAKA
Henk Schulte Nordholt,dkk.2007.seabad Puputan Badung perspektif belanda dan Bali. Bali: KITLV Jakarta dan Fakultas sastra universitas Udayana